Dewi Pujiati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
TIGA JAM BERSAMANYA
dokumen photo pribadi

TIGA JAM BERSAMANYA

TIGA JAM BERSAMANYA

Oleh: Dewi Pujiati

Padat membahagiakan. Itulah warna hariku Senin, Tiga Desember duaribu delapan belas. Beberapa agenda yang sudah tersusun Alhamdulillah bisa berjalan sesuai rencana. Walau ada dua rencana kegiatan yang harus di reschedule, namun tetap tidak mengurangi perasaan bahagia yang terasa.

Penasaran kan?, apa gerangan yang membuat saya bahagia hari ini?.

Perasaan bahagia saya bukan bersumber gegara saya dapat hadiah undian, ataupun sejenis durian runtuh lainnya (walau sebenarnya sih, tetap ngarep dan berdoa utk rezeki model itu). Perasaan bahagia hari ini bersumber dari kebersamaan selama tiga jam bersama ibuku.(Nulisku sampai disini. Sepetnya mata tak bisa kutahan Senin Malam, tiga Desember kemarin).

Baca-baca sederhana disertai orat- oret rangkuman persiapan Uji Kompetensi Guru (UKG) besok pagi sudah seesai. Karena belum ngantuk, lanjut deh buka lapiku. Ah, ingat tulisan yang belum selesai. Saya lanjutkan lagi kisahku biar tidak penasaran ya, (sok bergaya penulis beken, yang selalu ditunggu bahan tulisan oleh para penggemarnya).

Ya, Senin tiga Desember kemari, saya kebagian tugas mengawal dan menemani Ibuku mengambil gaji pensiunannya. Semenjak kepergian almarhum Bapak tujuh tahun lalu. Saya dan saudara-saudara memang bergantian menemani Ibu kala mengambil pensiunannya sendiri dan pensiunannya sebagai janda. Seringnya sih Kakak-kakakku yang menemani Ibu. Karena sy terikat waktu kerja. Namun sejak sebulan lalu, tekad akan menyisihkan waktu menemani Ibu utk keperluan di atas begitu besar. Di usianya yang semakin senja (Tujuh puluh tujuh tahun), membuatku selalu bertarget untuk menyediakan waktu untuk moment-moment kebersamaan yang disenangi Ibu. Salah satunya, kebahagiaan mengambil balasan pengabdiannya dulu berpuluh tahun sebagai pendidik dalam bentuk pensiunan. Kalau sengaja diajak jalan-jalan selain moment tersebut, ibu lebih banyak tidak bersedianya (tentunya dengan alasan kaki yang sudah rentah dan tak lagi kuat). Beliau lebih senang menghabiskan waktu di rumah, sambil setia menunggu kunjungan anak-anak, cucu dan cicitnya.

Walau dengan konsekuensi harus atur jadwal yang begitu rapat dan padat (yakni antar anak-anak sekolah, kerja, dan tugas plus-plus lainnya), Alhamdulillah dengan seizin atasanku, menyisipkan waktu tiga jam diantara jam kerjaku untuk menemani ibuku berjalan lancar. Dengan bantuan jasa angkutan online, petualangan dan pengawalan pun dimulai.

Setiba di slah satu bank kusus pensiunan, Menyalami dan say hello apa kabar kepada teman-temannya sesama pensiunan adalah keramahan yang menjadi bagian karakter Ibu yang saya kagumi. Walau dengan langkah yang sudah tertatih dan pendegaran yang sedikit terganngu, setiap kali mendapati rekan-rekan sesame pensiunan Ibu selalu ramah menyalami. Mendapati pemandangan para manula slih berganti di salah satu bank khusus pensiunan, melempar anganku membayangkan apakah kelak saya bisa sampai di titik itu.

Para pembaca pasti bertanya ya, kenapa sih tidak diambilkan saja pakai surat kuasa? Biar praktis dan tidak repot.(mencoba menerka pikiran pembaca). Selama Ibu kuat dan masih bisa, santai mengawal serta menikmati jalan-jalan setiap tanggal muda adalah salah satu bentuk bakti kami anak-anaknya.

Tiga jam bersama Ibu. Menemaninya mengambil gaji pensiunan. Memilih beberapa dalaman.Menemani makan makanan kesukaannya serta menikmati hiruk pikuk suasana kota, sungguh membuat bahagia. Tak lupa menyenandungkan lagu-lagu kegemaran kami berdua (lagu keroncong tentunya). Juga berbincang banyak hal tentang apa saja yang terlintas dan bisa diingat. Ajaib terasa, setelahnya hati ini terasa ringan bahagia.

Cukup tiga jam saja.Kebersamaan jalan-jalan dengan orangtua adalah obat pabila resah menderah. Kembali kuantarkan Ibu pulang. Beliau memang lebih senang tinggal di rumahnya daripada tinggal bersama putra putrinya. Walau saya harus kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan tertunda. Rasanya lagi dan ingin lagi, sebelum waktu kebersamaan itu kan selesai oleh takdirNya. Sampai jumpa di hari Minggu Ibu. Semoga Allah senantiaa memberiku rezeki untuk selalu bisa menyapa dan melihat senyummu. Sehat berkah selalu Ibu. Ku tulis ini dengan segenap doa dan kasih.

#03Desember2018

#JelangHariIbu

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Cukup tiga jam, merenda hati bersamanya, menemaninya lakukan aktivitas selama kita bisa, dan tak perlu surat kuasa karena sang putri sigap siapkan tangan dan bahu untuk bersandar sang Ibunda dalam perjalanan. Tulisan berbalut airmata keharuan akan kemuliaa Ibunda di hari tua. Ingatkan dan ajarkan kami arti berbakti. Terimakasih Ibu Dewi, semoga Ibunda selalu sehat. Ditunggu karya hebat berikutnya.

06 Dec
Balas

Kebahagiaan bisa dihadirkan dari setiap hal walau sekecil apapun . Salam bahagia, Ok Bun!

06 Dec
Balas

Kehangatan masih bisa didapat, kebahagian masih bisa diraih, kebersamaan masih bisa dilakukan, maka sempatkan menemaninya. Sukses selalu dan barakallah

06 Dec
Balas

Bahagia juga ketika membaca tulisan ini..Sehat dan sukses selalu..Bunda Dewi..

06 Dec
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali